Kau adalah dewa di mataku
Berkatmu tak ada yang berani menyentuhku
Walau dirimu hampir menjamah seluruh sudut singgasanaku
Ku selalu mendukungmu dalam politik di istanaku
Hingga saatku melihat ke bawah
sang ratu berhasil menyingkirkanmu
Hal itu membuatku tersengat berhari-hari.. minggu.. bulan ..berlalu
Waktu berhembus membuka mataku
Dirimu hadir kembali di hadapanku
Kau aman sang ratu tak menyadarimu
Tapi dirimu yang dulu tak sedewasa kini
Kau bagaikan sesuatu yang selalu menghantuiku
Aku berlari meninggalkan singgasanaku
Menyusuri koridor demi koridor
Bilik demi bilik pun kulalui
Kutemukan ratuku
Ratu, musnahkan Rangnggonggo!
*maksa*